eksekutif Harus Fokus Tarik Pengembangan Usaha yang tersebut Ciptakan Lapangan Kerja

JAKARTA – Realitas ditutupnya banyak pabrik yang digunakan dihadiri oleh dengan pemutusan hubungan kerja ( PHK ) ribuan pekerja harus dipandang sebagai persoalan serius, terkait dengan iklim mencoba di tempat Indonesia. Kementerian terkait selayaknya fokus memperbaiki berbagai kendala penanaman modal lalu menyokong masuknya modal asing bagi terciptanya lapangan kerja baru.
Pengamat hubungan internasional Zenzia Sianica Ihza memandang, untuk mengatasi gelombang PHK, pemerintah perlu melakukan metamorfosis ekonomi jangka panjang dengan berbagai langkah strategis. Mengingat fenomena PHK ini terkait dengan perlambatan sektor sektor manufaktur, yang digunakan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.
“Kita perlu kebijakan reindustrialisasi, peningkatan iklim usaha, optimalisasi pengembangan lebih lanjut sumber daya alam, lalu mendatangkan pembangunan ekonomi yang tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan,” kata Zenzia di keterangannya disitir di dalam Jakarta, Awal Minggu (10/3/2025).
Dalam pandangan Zenzia, upaya kementerain terkait menghadapi krisis PHK ini masih kurang memadai, lambat, dan juga belum konsisten.
“Untuk jangka pendek pemerintah harus fokus pada upaya menjaga daya beli masyarakat. Itu sanggup dijalankan dengan pemberian subsidi terhadap korban PHK, menyediakan inisiatif pelatihan untuk meningkatkan keterampilan agar mereka bisa jadi bekerja di tempat sektor lain, lalu menghubungkan merekan dengan kesempatan kerja baru,” katanya.
Mengutip data BPS yang mana dirilis 5 Nov 2024 lalu, Zenzia menyebut, masih ada 7,47 jt orang yang digunakan menganggur juga total ini dipastikan akan bertambah seiring banyaknya PHK dalam awal 2025 ini. Bahkan, data International Monetary Fund (IMF) menunjukkan, level pengangguran di area Indonesia menempati level tertinggi di tempat ASEAN. Setiap April 2024 lalu tingkat pengangguran kita mencapai 5,2 persen, disusul Filipina (5,1%), Brunei Darusallam (4,9%), Tanah Melayu (3,52%), Vietnam (2,1%), Singapura (1,9%) juga Tahiland (1,1%).
“Sampai dengan akhir Februari lalu, mereka yang mana terkena PHK itu telah mencapai sekitar 80 ribu orang. Tak ada cara lain untuk mengatasi ini, kecuali memperbaiki kesempatan mencoba dalam Indonesia sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru,” tandas Zenzia.
Iklim Investasi
Zenzia juga memandang, meskipun peringkat daya saing Indonesia mengalami peningkatan, sinyal positif ini belum cukup untuk menarik penanam modal apabila tantangan lain tak dibenahi.
“Memang kita berhasil naik pada peringkat daya saing, tetapi faktor lain seperti stabilitas hukum, birokrasi yang dimaksud berbelit, serta kebijakan yang tersebut kerap berubah harus segera diperbaiki untuk mengupayakan tambahan berbagai investasi,” ujarnya.
- BNI Beri Cashback hingga Rp10 Juta untuk Penyertaan Modal Sukuk ST014 lewat Wondr
- Kanada Siap Berinvestasi Dukung Transisi Energi Indonesia






