Kenali ciri-ciri “people pleaser” sebelum tertahan pada kebiasaan ini

Ibukota – Ada kalanya seseorang merasa harus terus berkata “ya” demi melindungi hubungan masih baik dengan pemukim lain.
Mulai dari menyetujui pendapat yang mana sebenarnya tak terlalu diyakini, sampai mengiyakan permintaan yang tersebut menciptakan lelah, hanya sekali lantaran takut mengecewakan. Sekilas, sikap ini terlihat sebagai bentuk kepedulian.
Tapi tanpa disadari, kebiasaan yang dimaksud bisa jadi tumbuh jadi sesuatu yang tersebut rumit dan juga melelahkan.
Keinginan untuk terus-menerus menghasilkan khalayak lain senang kerap kali dibungkus dengan niat yang tersebut terlihat baik ingin membantu, melindungi hubungan terus harmonis, atau takut dianggap egois.
Namun, dalam balik sikap yang terlihat ramah kemudian penuh perhatian itu, tak jarang tersimpan rasa lelah, cemas bahkan kehilangan arah pada menjalani hidup. Jika berlangsung terus-menerus, keadaan ini bisa jadi berpengaruh besar terhadap kesejahteraan mental.
Apa itu people pleaser?
People pleaser sebenarnya bukanlah istilah medis, melainkan istilah yang mana digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kecenderungan untuk selalu menyenangkan pemukim lain, meskipun harus mengorbankan permintaan dan juga keinginannya sendiri.
Sangat wajar apabila kita ingin disukai dan juga diterima, apalagi pada lingkungan sosial yang mana dekat. Namun, berbeda dengan sikap tolong-menolong sesekali, menjadi people pleaser adalah pola yang digunakan sulit dihentikan.
Orang dengan kecenderungan ini biasanya merasa tidak ada senyaman jikalau harus menolak sesuatu, menyembunyikan perasaannya, atau terlalu sejumlah menyetujui hal-hal yang sebenarnya bukan sejalan dengan dirinya.
Meskipun mampu memproduksi pemukim lain senang, kebiasaan ini kerap kali justru melelahkan secara emosional. Orang yang terlalu banyak memprioritaskan keperluan penduduk lain akhirnya jarang punya waktu serta ruang untuk dirinya sendiri.
Ciri-ciri people pleaser
Beberapa tanda umum dari perilaku people-pleasing antara lain:
- Sulit berkata “tidak”
- Terlalu memikirkan pendapat pemukim lain
- Merasa bersalah apabila menolak permintaan pendatang lain
- Takut dianggap jahat atau egois
- Menyetujui hal-hal yang tersebut tidak ada diinginkan
- Merasa rendah diri
- Sering memohonkan maaf, bahkan ketika tak bersalah
- Mengambil tanggung jawab menghadapi kesalahan yang digunakan bukanlah miliknya
- Selalu sibuk membantu pendatang lain hingga tak punya waktu luang
- Mengabaikan permintaan pribadi demi pendatang lain
- Berpura-pura setuju agar bukan mengakibatkan konflik
Dampak people-pleasing terhadap keseimbangan mental
Menjadi pemukim yang peduli dan juga perhatian tentu bukanlah hal buruk. Namun, jikalau dijalankan berlebihan serta terus-menerus, perilaku ini bisa jadi mengakibatkan dampak negatif pada kesejahteraan mental, seperti:
- Marah dan juga frustrasi: Ketika terus memberi tanpa pamrih, tapi merasa tidak ada dihargai, perasaan kecewa juga kesal bisa jadi muncul baik terhadap pendatang lain maupun diri sendiri.
- Cemas dan juga stres: Menyibukkan diri untuk memenuhi ekspektasi pemukim lain bisa jadi menyebabkan energi fisik lalu mental terkuras habis.
- Kehilangan kemauan diri (willpower): Fokus berlebihan pada kebahagiaan khalayak lain dapat mengempiskan kemampuan untuk menetapkan serta mengejar tujuan pribadi.
- Kehilangan jati diri: Terlalu kerap menyembunyikan pendapat atau perasaan demi menyenangkan pendatang lain bisa saja menciptakan seseorang merasa sangat dari dirinya sendiri.
- Hubungan tiada seimbang: Ketika semata-mata satu pihak yang mana terus memberi, hubungan pun sanggup menjadi timpang. Lama-kelamaan, ini memunculkan rasa bukan dihargai atau bahkan dimanfaatkan.
Artikel ini disadur dari Kenali ciri-ciri “people pleaser” sebelum terjebak dalam kebiasaan ini






