NU 102 Tahun: Dari Sinergi Menuju Peradaban Inklusif

Eko Ernada
Anggota Badan Pengembangunan Jaringan Internasional (BPJI-PBNU)
Ketua PCI NU Australia-New Zealand (2007-2012)
APA makna 102 tahun (31 Januari) bagi sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU) ? Bagi NU, usia ini bukanlah sekadar angka, melainkan cerminan dari perjalanan panjang yang penuh dedikasi di menjaga keutuhan bangsa dan juga memperjuangkan nilai-nilai Islam moderat. Pencapaian ini menggambarkan peran historis NU sebagai motor penggerak perdamaian, harmoni, juga pemberdayaan masyarakat. Motto kepengurusan NU pada bawah Kiai Miftachul Akhyar dan juga Kiai Yahya Cholil Staquf, “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” menjadi panduan strategis yang digunakan mempertegas pentingnya kolaborasi di mendirikan masa depan.
Kolaborasi mencerminkan semangat untuk tolong-menolong di kebaikan yang digunakan bukan belaka bersifat pragmatis tetapi juga bernilai spiritual. Prinsip ini diabadikan di QS Al-Maidah: 2, yang digunakan berbunyi: “Dan tolong-menolonglah kamu di (mengerjakan) kebajikan lalu takwa, kemudian jangan tolong-menolong pada berbuat dosa juga pelanggaran“. Dalam konteks ini, kolaborasi menjadi alat strategis sekaligus cerminan nilai spiritual Islam yang tersebut mendalam.
Dengan tambahan dari 56,9% penduduk Indonesia, atau sekitar 159 jt orang, yang digunakan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari NU (data LSI 2023), organisasi ini mempunyai kapasitas besar untuk menjadi katalis di mewujudkan semangat kolaborasi ini. Basis anggota yang digunakan masif ini menunjukkan tiada belaka kekuatan demografis NU, tetapi juga tanggung jawab besar di mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin ke pada keberadaan bermasyarakat kemudian berbangsa. Tantangan zaman yang digunakan dihadapi pada waktu ini terpencil lebih tinggi kompleks, mencakup dinamika geopolitik, populisme agama, krisis ekologi, kemudian disrupsi sosial akibat perkembangan teknologi digital.
Secara historis, Islam sudah pernah membuktikan bahwa kolaborasi adalah pilar utama peradaban. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, ilmuwan Muslim bekerja sebanding dengan berbagai budaya seperti Yunani, Persia, juga India untuk menciptakan pengembangan besar pada ilmu pengetahuan, seni, kemudian teknologi. Bekerjasama lintas budaya ini menjadi bukti bahwa kemajuan peradaban tiada sanggup dicapai secara eksklusif, melainkan melalui sinergi yang mana inklusif.
Peradaban inklusif, sebagaimana ditegaskan oleh pemikir Islam seperti Ibn Khaldun, adalah peradaban yang tersebut terbuka terhadap dialog lintas budaya kemudian lintas agama, menciptakan ruang bagi keberagaman untuk mengalami perkembangan menjadi kekuatan bersama. Hal ini tetap memperlihatkan relevan di area era modern, dalam mana tantangan global seperti pembaharuan iklim, disinformasi, serta ketimpangan sosial memerlukan pendekatan kolaboratif yang digunakan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Tantangan zaman pada waktu ini menempatkan agama di sorotan yang tersebut semakin tajam. Konflik berbasis agama di tempat Timur Tengah terus menciptakan ketegangan yang tersebut meluas lintas negara. Di sisi lain, meningkatnya Islamofobia dalam Eropa lalu Amerika Utara menunjukkan tantangan persepsi global terhadap Islam yang tersebut perlu dijawab dengan narasi Islam moderat. Populisme agama, yang mempolarisasi rakyat pada berbagai negara, termasuk Indonesia, semakin memperjelas urgensi untuk menguatkan narasi keberagaman juga toleransi. NU, dengan warisan Islam moderatnya, mempunyai tempat strategis untuk menjawab tantangan ini melalui kolaborasi lintas agama dan juga budaya.
Selain itu, krisis ekologi telah dilakukan menciptakan ancaman nyata yang tersebut memerlukan solusi berbasis nilai keagamaan. Pemanasan global, kehancuran lingkungan, serta eksploitasi sumber daya alam menuntut respons yang dimaksud terkoordinasi. Dalam hal ini, NU dapat memainkan peran penting melalui pendekatan keberlanjutan yang mana terinspirasi oleh nilai-nilai Islam. Muktamar Fiqih Peradaban, misalnya, dapat menjadi ruang untuk merumuskan strategi berbasis ajaran Islam yang relevan dengan pelestarian lingkungan dan juga keadilan ekologi.
Perkembangan teknologi digital juga menghadirkan disrupsi sosial yang digunakan tidak ada kalah signifikan. Teknologi digital telah lama menciptakan kesempatan sekaligus tantangan bagi organisasi seperti NU. Di satu sisi, teknologi dapat digunakan untuk memperluas jangkauan dakwah, memperkenalkan Islam moderat, juga memulai pembangunan kesadaran global tentang nilai-nilai keislaman yang mana inklusif.
Namun, pada sisi lain, teknologi juga digunakan untuk menyebarkan disinformasi, narasi ekstremis, lalu hoaks yang mana merusak harmoni sosial. Oleh oleh sebab itu itu, literasi digital menjadi jadwal penting bagi NU untuk melakukan konfirmasi pemanfaatan teknologi yang digunakan memperkuat keberlanjutan peradaban.






