Indonesia Cs Menuju Keanggotaan Resmi BRICS, Apa yang mana Sebenarnya Dicari?

JAKARTA – Pada Oktober 2024, empat negara utama dalam Asia Tenggara sudah menjadi mitra BRICS . Lantas mengapa Thailand, Malaysia, Indonesia, lalu Vietnam menempatkan diri merekan di dalam jalur keanggotaan?
Apa itu BRICS?
BRICS didirikan pada tahun 2009 oleh Brasil, Rusia, India, Cina, serta Afrika Selatan serta dipandang sebagai kelompok perekonomian tumbuh yang tersebut bekerja identik untuk menguatkan hubungan sektor ekonomi kemudian membatasi pengaruh Negeri Paman Sam pada sistem keuangan dan juga perdagangan global.
Pada 2023, BRICS memutuskan untuk memperluas keanggotaan dengan mengundang Argentina, Mesir, Ethiopia, Iran, UEA, kemudian Arab Saudi untuk bergabung. Dengan sebagian besar dari merekan bergabung kecuali Argentina lalu Arab Saudi, BRICS sekarang menjadi kelompok dengan sembilan anggota resmi.
Menyitir dari Australian Institute of International Affairs, secara total, sektor ekonomi anggota ini menyumbang sekitar 28% dari ekonomi global, yang digunakan setara dengan lebih banyak dari USD28,5 triliun. Pada Pertemuan Level Tinggi (KTT) BRICS yang digunakan diselenggarakan dalam Kazan, Rusia, 13 negara ditambahkan sebagai negara mitra termasuk Thailand, Malaysia, Indonesia, dan juga Vietnam. Sebagai mitra, negara-negara Asia Tenggara ini dapat meningkatkan kerja serupa tambahan lanjut dengan anggota BRICS menuju anggota resmi BRICS.
Efek Trump
Terjepit di persaingan kekuatan besar, sebagian besar negara Asia Tenggara rutin memilih untuk mengambil sikap netral “hedging” antara Amerika Serikat juga China. Namun, ketidakpastian era Trump kemungkinan besar mengubah perhitungan negara-negara Asean. Jamil Ghani dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) berpendapat bahwa kepemimpinan Trump 2.0 ini dapat memacu negara-negara Asia Tenggara untuk menjajaki hubungan yang digunakan lebih tinggi dekat dengan BRICS, didorong oleh kegelisahan melawan kebijakan kegiatan ekonomi AS.
Kekhawatiran ini termasuk ketidakhadiran Washington dari perjanjian perdagangan multilateral seperti Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership dan juga Lokal Comprehensive Economic Partnership, juga kebijakan proteksionis Trump, yang tersebut ditetapkan selama masa jabatan pertamanya terhadap negara-negara lain yang mana miliki defisit perdagangan dengan AS, bahkan jikalau mereka itu adalah sekutu Amerika.
Perhitungan Strategis






