Kongres: Jembatan Hati Kader Muslimat

Mariyatul Norhidayati Rahmah
Ketua PW Muslimat NU Kalimantan Selatan
Pengasuh Pusat Syiar dan juga Dakwah Al-Mahabbah Banjarmasin
KONGRES Muslimat NU pada Surabaya kemarin menyisakan sejumlah kenangan. Kenangan tentang khidmah, kebersamaan, militansi, keteguhan, solidaritas, komitmen, lalu cita-cita bersama. Menjadi tempat bagi kader Muslimat NU senusantara bahkan sedunia, untuk saling mengenal lalu terhubung. Dalam bahasa Al-Qur’an disebut; “Lita’aarafu“.
Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, para kader berkumpul berdatangan secara sukarela. Mengusung visi juga panji dengan yakni kebesaran Muslimat, Nahdlatul Ulama, Nusa kemudian Bangsa. Sebagai pendidik, pembina bunga bangsa yang digunakan menunaikan tugas mulia, ibu-ibu Muslimat dengan tekun menyelesaikan satu demi satu rangkaian tugas organisasi. Berkumpul, berdiskusi, berdinamika, lalu memilih kembali pemimpin organisasi.
Yang paling kuat dirasakan adalah ikatan batin yang dimaksud tak mampu diukur hanya saja dengan sudut pandang kumpul-kumpul kemudian berserikat. Muslimat diikat oleh latar belakang kebudayaan, geneologi, sanad, serta ideologi yang dimaksud satu. Ditambah lagi dengan peran sosok pemimpin yang selama ini menjadi kebanggaan juga simbol perekat antar kader juga seluruh anggota; Hj. Khofifah Indar Parawansa.
Ibu Khofifah bukanlah hanya sekali Ketua Umum, tapi telah selayaknya ibu bagi kami kader-kader Muslimat. Figur ulama perempuan, pemimpin, pembelajar, pendidik, penggerak, juga pengayom. Dengan segala prestasi lalu capaian yang mana beliau torehkan baik di dalam organisasi maupun pada pemerintahan, tidak ada lantas menjadikan Ibu Khofifah sosok yang tersebut high profile. Namun sebaliknya, perangai yang dimaksud santun serta down to earth menyatu pada sikap juga laku beliau sehari-hari.
Lebih-lebih, penampilan figur-figur kharismatik nan sejuk lalu teduh turut melengkapi juga menyempurnakan kebahagiaan. Ada Bu Nyai Mahfuzhah Aly Ubaed, Bu Nyai Chisbiyah, Bu Nyai Masruroh, Bu Nyai Munjidah, Bu Nyai Siti Aniroh, Hajjah Nurhayati Said Agil Siradj, Hajjah Ulfah Masfufah, Hajjah Zannuba Arifah Chapsoh, serta tentu hanya Hajjah Arifatul Choiri Fauzi Ketua PP Muslimat terpilih yang akan menjalankan roda organisasi, dinakhodai Ketua Umum Dewan Pembina Ibu Khofifah Indar Parawansa.
Begitu pula ibu-ibu pengurus, kader, serta anggota-anggota lain yang luar biasa. Komposisi yang insya Allah solid, kokoh, dan juga mencerminkan instruksi serta spirit daripada hadits Nabi SAW; “al mu’minu lil mu’mini kal bunyaani yasyuddu ba’dhuhu ba’dha”. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya laiknya bangunan, saling menguatkan satu mirip lain.
Hal ihwal yang disebutkan pada berhadapan dengan lah yang mana barangkali menjadikan forum kemudian suasana kongres begitu guyub juga bahkan mengharu biru. Tak terhitung berapa tetes tangis yang digunakan tumpah. Sebab semua kader merasakan, mengurus Muslimat adalah jihad yang harus dijalani dengan hati yang tersebut tulus ikhlas pada menjalankan roda organisasi. Dengan segenap keikhlasan serta ketulusan itu lah panji Muslimat terus berkibar, kemudian suluh organisasi terus menyala dalam seluruh sudut negeri. Dalam rangka “Li i’laa i kalimatillaah, wa li iqaamati syarii’atih”. Mengibarkan kalimat Allah serta menegakkan syariat-Nya.
Momentum kongres kemarin memang benar sudah ada selesai. Tapi arahan serta kesannya, tertancap pada dalam sudut sanubari para kader dan juga anggota. Menjadi jembatan hati bagi terhubungnya konektifitas batin antar pengurus, antar kader, juga segenap keluarga besar Muslimat Nahdlatul Ulama.
Alhasil, semoga setiap jengkal proses yang dimaksud dilalui di area kongres kemarin, dengan segala dinamika, serba serbi, kemudian warna warni di area dalamnya, semoga menjadi bekal bagi pengurus, kader, serta anggota Muslimat untuk berkontribusi lebih besar besar lagi di dalam area masing masing.
Bulat air sebab pembetung, bulat manusia lantaran mufakat. Hidup sekali moga beruntung, dengan iman kita beberkat.






