Nasional

pemerintahan Dinilai Perlu Dukung Penelitian Barang Tembakau Alternatif

JAKARTA – Pemerintahdinilai perlu menggalang penelitian mengenai komoditas tembakau alternatif. Penelitian mengenai metode Pengurangan Risiko Tembakau atau Tobacco Harm Reduction (THR) sebagai alternatif berhenti merokok diyakini menjadi salah satu strategi di dasar penyusunan aturan.

Dokter Ahli Fisiologi Universitas Padjajaran (Unpad) Ronny Lesmana menilai peran pemerintah untuk mengupayakan riset tentang ini sangat diperlukan. Hasil riset nantinya akan segera menjadi data awal untuk merumuskan peraturan berbasis data, mengingat hitungan kematian akibat rokok di tempat Indonesia pada waktu ini mencapai 300.000 nyawa per tahun.

“Data dari penelitian menjadi komparasi yang baik sebagai dasar bagaimana memutuskan suatu regulasi. Regulasi ini mau dibuat seperti apa? eksekutif harus penanaman modal untuk penelitian, termasuk metode alternatif ini. Sebab, untuk memahami suatu ilmu itu mahal. Topik ini (THR) tidak ada pernah diangkat,” ucapannya di sebuah acara pada Ibukota dikutipkan Hari Minggu (2/2/2025).

Dia meninjau penelitian selama ini didominasi sudut pandang tembakau sebagai komoditas. Sedangkan dari sisi kesehatan, studi untuk memanfaatkan item alternatif tembakau yang tersebut rendah risiko belum dilakukan. Akademisi pun melakukan studi-studi alternatif setelahnya meninjau situasi tersebut, termasuk lembaga yang dimaksud dinaungi universitas tempat Ronny bekerja.

Kendati demikian, penelitian yang dimaksud dinilai belum diterima dengan baik oleh pemerintah sebagai penunjang penetapan aturan. Dia berpendapat, pemerintah masih belum mengawasi THR sebagai potensi yang tersebut bisa saja dimaksimalkan untuk memproduksi perokok beralih hingga akhirnya berhenti merokok.

Lebih lanjut Ronny menuturkan, merujuk pada riset “Lives Saved Report” yang mana terbit November 2024, penerapan THR di kebijakan masyarakat diproyeksikan akan menyelamatkan 4,6 jt nyawa dalam Indonesia hingga 2060. Dikatakannya, metode THR hadir sebagai pendekatan yang dimaksud bertujuan untuk menurunkan risiko kebugaran akibat rokok dengan memberikan opsi alternatif yang lebih tinggi rendah risiko bagi pengguna.

Hasil penelitian pun membuktikan bahwa barang alternatif yang tersebut tersedia memperkuat upaya untuk berhenti merokok. Dia mengungkapkan THR di dalam negara-negara progresif seperti Swedia, Inggris, Amerika Serikat, dan juga Negeri Sakura menjadi bagian vital bagi pemerintahnya pada mendesain kampanye berhenti merokok.

Dia melanjutkan, tingkat merokok di area Swedia mengecil di 15 tahun terakhir, dari 15 persen menjadi 5,3 persen. “Pemerintah kita terlalu ketat di memandang item tembakau alternatif ini, cuma jalan dengan paradigma bukan boleh merokok. Namun, fakta di dalam lapangan, selama rokok masih diizinkan, perlu opsi menurunkan risiko pada bentuk lain. Secara rasional, ini tidak sesuatu yang tersebut mampu ditunda, tapi dipikirkan bersatu untuk ke depannya,” imbuhnya.

Usaha-usaha yang disebutkan dianggap sebagai bagian yang dimaksud dijalankan untuk menurunkan risiko serta dampak buruk pemanfaatan tembakau. Dia menilai konsep THR yang dimaksud masih asing juga perlu diperkenalkan untuk rakyat kemudian digali lebih lanjut mendalam mengenai manfaatnya bagi perokok untuk beralih hingga akhirnya benar-benar berhenti merokok.

Related Articles

Back to top button